Jakarta, 01 Juli 2025 – Sebuah forum akademik bertajuk "Bridging Tradition: Advancing Governance & Tertiary Education Through the Pesantren Model" baru-baru ini diselenggarakan, mempertemukan para cendekiawan dari Indonesia dan Malaysia untuk membahas integrasi model pendidikan tradisional Pesantren dengan sistem pendidikan tinggi modern. Diskusi ini menyoroti potensi besar model Pesantren dalam menghadapi tantangan era digital, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Acara yang dibuka dengan lagu kebangsaan Malaysia dan Indonesia ini, menampilkan sambutan dari Profesor Dr. Zuraidah Mohamad Sanusi, Direktur Accounting Research Institute (ARI) di Universiti Teknologi Mara (UiTM). Beliau menekankan pentingnya diskursus Islam untuk pembangunan dan perayaan beragam opini. Forum ini dimoderatori oleh Profesor Kehormat Datuk Dr. Mizan Hitam, dengan panelis dari berbagai universitas di Indonesia, termasuk Dr. Abu Amar Bustami dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan, dan Profesor Salahuddin Suyurno dari UiTM. Dr. Abu Amar Bustami sendiri merupakan bagian dari civitas akademika UNU Pasuruan, sebuah institusi yang memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pengembangan Publikasi dan Hak Kekayaan Intelektual (P3H) yang berfokus pada penerbitan, pengelolaan jurnal, dan HAKI.

Tema sentral forum ini adalah bagaimana model Pesantren, yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam dan pembentukan karakter, dapat diintegrasikan dengan pendidikan tinggi kontemporer untuk memajukan tata kelola dan pendidikan.
Diskusi Mendalam tentang Integrasi dan Tantangan AI
Dalam sesi pertama, para panelis berbagi pengalaman dan pandangan mereka:
Profesor Salahuddin Suyurno (UiTM) memaparkan pengalaman UiTM dalam menjembatani pendidikan modern dengan model Pesantren, menyoroti program seperti Tahfiz Plus dan nilai-nilai inti "usaha, takwa, mulia."
Dr. Abu Amar Bustami (Universitas Nahdlatul Ulama, Pasuruan) membahas nilai-nilai inti pendidikan Pesantren yang menekankan Al-Quran, keunggulan moral, dan kemudian pengetahuan/peradaban, memperkenalkan program "teknologi inklusif unggul" mereka.
Dr. Haji Rashidi (Institut Al-Fitrah, Surabaya) menyoroti jumlah Pesantren yang besar di Indonesia dan perannya dalam pendidikan agama, menyebutkan lokasinya di dalam sebuah Pesantren di Surabaya.
Kiai Haji Dr. Randus Satwal Majid Mufik (Universitas Islam Sharifuddin, Lumajang) menguraikan peran seorang "Kiai" dalam membentuk individu yang saleh dan utuh, dengan Al-Quran dan Sunnah sebagai fondasi.
Dr. Winarto Eka Wahyudi (Universitas Islam Lamongan) membahas tantangan era AI dan bagaimana pendidikan tinggi berbasis Pesantren dapat memberikan solusi dengan menekankan karakter, etika, dan pemikiran kritis, yang tidak dapat ditemukan di smartphone atau AI.
Sesi kedua forum berfokus pada tantangan era AI dan bagaimana mengintegrasikan teknologi sambil menjunjung tinggi nilai-nilai. Para pembicara sepakat bahwa meskipun AI dapat menggantikan pengetahuan, ia tidak dapat menggantikan kebijaksanaan dan etika. Pentingnya mengajarkan siswa untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dengan "adab" (etika) sebelum pengetahuan, dan kebutuhan akan pemikiran kritis untuk menyaring informasi menjadi poin-poin utama.
Diskusi juga menyentuh bagaimana tradisi Pesantren seperti "Bahtsul Masail" (diskusi pemecahan masalah) telah lama membahas isu-isu modern, termasuk teknologi dan keuangan digital. Para ulama juga menekankan pentingnya menanamkan iman yang kuat sebagai filter terhadap pengaruh negatif teknologi, serta peran tak tergantikan guru/dosen sebagai fasilitator dan penjaga otoritas intelektual.
Sesi tanya jawab membahas ancaman misinformasi dari AI dan kebutuhan untuk berkolaborasi dengan agen AI untuk mengoreksi informasi, serta mencari titik temu antara model UiTM dan pendekatan pembelajaran seumur hidup Pesantren.
Datuk Dr. Mizan Hitam menyimpulkan diskusi, menekankan potensi untuk mengadaptasi model Pesantren di Malaysia dan pentingnya upaya dan kolaborasi berkelanjutan. Forum ini menegaskan kembali kekayaan tradisi pendidikan Pesantren di Indonesia dan mengeksplorasi jalan untuk mengintegrasikan nilai-nilai dan metodenya dengan sistem pendidikan tinggi modern, terutama dalam menghadapi kemajuan teknologi seperti AI.