AI Jadi Perisai Digital, Lindungi Generasi Muda dari Lirik Vulgar Dangdut di Medsos
Kolaborasi 4 Universitas Kembangkan Sistem Penyaring Konten Berbasis Kecerdasan Buatan
Pasuruan, 13 Juni 2025 – Riset terapan lintas kampus mengembangkan sistem proteksi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memfilter lagu dangdut berkonten vulgar di media sosial. Dipimpin Dr. Dewi Kusumaningsih (Universitas Veteran Bangun Nusantara), proyek ini menjadi solusi inovatif penguatan pendidikan karakter di era digital. "Ini upaya konkret menjaga generasi muda sekaligus melestarikan martabat dangdut sebagai warisan budaya," tegas Dewi dalam rilis resmi (13/6/2025).

Darurat Konten Vulgar
Ledakan konten dangdut di platform digital belakangan ini, menurut tim peneliti, kerap disertai lirik bermuatan seksual dan kekerasan. Fenomena ini dinilai mengancam pembentukan karakter generasi muda. Riset yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini hadir sebagai respons atas degradasi nilai edukasi dalam konten hiburan.
Tim Ahli Multidisipliner
Kolaborasi melibatkan pakar dari 4 universitas:
Dr. Muhlis Fajar Wicaksana (Ahli Pendidikan, Univ. Veteran Bangun Nusantara)
Dr. Raden Arif Nugroho (Ahli AI, Univ. Dian Nuswantoro)
Dr. Susi Darhisantiang (Ahli Budaya, Univ. PGRI Jombang)
Rani Darmayanti, M.Pd. (Ahli Publikasi Ilmiah, UNU Pasuruan)
Mekanisme Kerja AI
Sistem ini dirancang melalui 4 tahap kritis:
Pemindaian Data: Analisis ribuan lagu dangdut untuk identifikasi pola lirik vulgar.
Pelatihan Algoritma: Pembangunan model AI dengan kemampuan deteksi konten sensitif.
Uji Coba Terbatas: Implementasi filter di platform medsos pilot project.
Penyempurnaan Dinamis: Evaluasi berbasis masukan pengguna dan perkembangan konten.
Target Strategis
Selain teknologi penyaring, riset ini mengejar 3 dampak sosial:
▶️ Pengurangan paparan konten negatif bagi anak muda
▶️ Peningkatan kesadaran masyarakat tentang hiburan edukatif
▶️ Pelindungan citra dangdut sebagai budaya Indonesia
Dukungan Penuh Kemenristek
Proyek ini masuk dalam program "Merdeka Belajar" yang mendorong inovasi pendidikan-teknologi. "Solusi teknis ini akan jadi model nasional jika berhasil," ungkap perwakilan Kemenristek. Sistem diharapkan dapat diintegrasikan ke platform media sosial besar pada 2026.
Masa Depan Hiburan Edukatif
"Kami tak ingin mematikan kreativitas musisi, tapi mengarahkan dangdut sebagai media penanaman nilai," pungkas Dr. Dewi. Hasil riset dapat diakses publik melalui https://bima.kemdiktaistek.go.id. Inisiatif ini menjadi bukti sinergi dunia akademik dan teknologi untuk menjawab tantangan budaya di ruang digital.